Zuhud Bukan Tidak Mau Bekerja

Ditulis Oleh

Kategori

blog

Dipublikasikan

Bagikan Melalui

Zuhud bukan mengharamkan yang halal dan bukan pula meninggalkan harta. Akan tetapi tidak menjadikan apa yang ada di tangan kita lebih kita yakini daripada apa yang ada di tangan Allah ﷻ.

Zuhud juga bukan tidak mau bekerja. Bukan pula mengenakan pakaian yang penuh dengan tambalan. Zuhud tidak dapat dinilai dari keadaan dhohirnya, namun dinilai dari keadaan batinnya.

Sifat zuhud jika ada dalam hati seseorang maka ia akan yakin bahwa Allah ﷻ lebih berkuasa dengan apa yang ia miliki daripada kekuasaannya sendiri terhadap apa yang ia miliki tersebut. Jika Allah telah mentakdirkan sesuatu menjadi milik kita, maka sesuatu tersebut pasti akan datang kepada kita. Sebaliknya, jika Allah tidak mentakdirkan sesuatu itu menjadi milik kita maka tidak akan pernah menjadi milik kita meski melalui usaha yang keras. Tak ada yang dapat merubah ketetapan Allah selain do’a.

Dengan demikian, jangan lebih beriman kepada usaha kita daripada kepada ketetapan Allah ﷻ

Termasuk tanda zuhud:

  • lebih senang mendapatkan pahala daripada mendapatkan dunia,
  • bersyukur ketika mendapat musibah karena besarnya pahala yang dapat ia raih melalui pahala sabar, dan mendapatkan manfa’at yang besar jika ia tetap khusnudhon kepada Allah, yaitu musibah adalah bentuk kasih sayang Allah. Seringkali merupakan bentuk perhatian dan kasih sayang Allah kepada seorang hamba.

Orang yang memiliki sifat zuhud maka badan dan hatinya akan merasa tentram nyaman. Sedangkan orang yang cinta dunia yang dipikirkan akan melulu perkara dunia. Jika kita mengerjakan segala sesuatu karena Allah, dengan membawa Allah dalam hati kita, maka ketika hasilnya tidak sesuai dengan prediksi, kita akan merasa biasa saja. Namun jika kita mengerjakan segala sesuatu demi mengejar kepentingan dunia, maka tolak ukur kita adalah profit, revenue, dan hal materiil lain. Sehingga jika hasil dari jerih payah kita tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi, kita akan lebih mudah merasa stress, tertekan, dan bahkan sakit.

Jangan sampai kita merasa kekuatan kita dapat mengalahkan kekuatan Allah ﷻ. Apa yg kita hasilkan bukanlah karena jerih payah atau usaha kita. Namun karena kemurahan Allah ﷻ. Memang ditetapkan menjadi rejeki kita, bukan karena upaya kita.

Namun demikian bukan berarti kita bermalas-malasan dan tidak perlu bekerja. Bekerja adalah adab kita kepada Allah. Allah menyukai muslim yang rajin. Bekerja adalah ibadah. Maka tetap kerjakan dengan sebaik mungkin, karena kita melakukannya karena Allah. bukan semata-mata karena hal duniawi. Pengangguran dan pemalas itu dapat memperkeras hati.

Mari merdekakan diri kita dari kesumpekan-kesumpekan dunia. Mari berhijrah menuju kesumpekan urusan akhirat. Dunia kita telah ditanggung dan dijamin oleh Allah. Sedangkan akhirat kita tidak ada yang menjamin. Maka jangan terbalik.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai ujung akhir ambisinya, Allah akan pisahkan ia dengan yang diinginkannya (dunia), lalu Allah akan menjadikan kefakiran membayang di pelupuk kedua matanya. Padahal Allah sudah pasti akan memberikan dunia kepada setiap manusia sesuai dengan yang telah Ia tetapkan. Tapi siapa yang menjadikan akhirat sebagai ujung akhir ambisinya, maka Allah akan mengumpulkan dan mencukupi segala kebutuhannya di dunia. Lebih dari itu, Allah akan membuat hatinya menjadi kaya. Dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk menerimanya.

(HR. Ibnu Majah)

Rejeki terbesar seorang hamba adalah hati yang selalu mengingat-Nya dan lisan yang selalu menyebut-Nya. Barangsiapa yang hatinya hanya dipenuhi dengan Allah maka siapapun yang melihatnya akan cinta padanya.

Artikel ini disadur dari tausiah Habib Hasan bin Ali Assegaf dalam pengajian rutin Ahad malam (ba’da isya’) di gedung sekretariat Majelis Assyifa’ Tulungagung.

Ingin menyalurkan sadaqah jariyah Anda?

BSI | No. Rekening 7712312127
a.n. Majelis Maulid dan Talim Assyifa
Konfirmasi: Bpk. H. Mursodo ( 081331194777 )